Chocomous: Memang Ditakdirkan Begitu

Memang Ditakdirkan Begitu

Setidak-tidaknya dalam satu scene kehidupan, saya pernah berpikir bahwa saya bisa menikah dan menjalani sisa hidup dengan siapa saja. Cinta? Itu kan fitrah, bisa hadir beriringan. Visi? Ya, asal visinya jelas dan baik, kenapa tidak. Komitmen? Itu kan konsekuensi dari mencintai, ya memang harus dijalani. Tidak masalah, dengan siapapun, asal baik, rasanya saya akan menjalani hidup yang baik pula. Toh, selama ini saya bisa berteman dengan banyak orang dan menjalin hubungan yang menyenangkan bersama mereka.

Tapi kalau begitu, kenapa para lelaki masih saja terus-terusan mencari belahan jiwa dengan serangkaian proses yang beragam tingkat kerumitannya padahal jumlah wanita baik-baik tak kurang jumlahnya di bumi manusia ini? Kenapa para wanita pun terus-terusan berharap dipertemukan dengan pangeran impiannya padahal laki-laki baik pun tak kalah banyak jumlahnya? Bukankah itu hal yang mudah, kamu tinggal pilih satu dari yang baik-baik itu untuk melengkapi setengah agamamu, kemudian selesailah urusan.

Ada sejuta lelaki baik-baik, ada sejuta wanita baik-baik, bukankah menjadi mudah untuk menjodohkan mereka? Pasang-pasangkan saja semuanya, toh semuanya baik. Tapi kenapa tidak semudah itu?

Saya kira, itu karena perjodohan bukan sepenuhnya urusan manusia. Kita bisa saja mengira si A yang sholeh dan si B yang sholehah akan sangat serasi jika menjadi pasangan. Ternyata, mereka tidak berjodoh. Atau, bisa saja kita menduga si Pangeran yang kaya tidak pantas bersanding dengan Cinderella yang miskin. Tapi justru berjodoh meski dalam dongeng.

Jodoh benar urusan Allah, sehingga tolok ukur serasi atau tidaknya sepasang kekasih bukanlah berdasarkan pada penilaian manusia, melainkan perhitungan Allah Yang Maha Adil. Dengan rumus yang rahasia, takdir jodoh itu ada. Dengan terencana, sepasang manusia yang berjodoh akan dipertemukan.

Saya pun tak tahu bagaimana Allah menjodoh-jodohkan manusia yang begitu banyak ini, variabel apa saja yang digunakan untuk menjodoh-jodohkan. Tapi saya tahu, bahwa cara-Nya mempertemukan dua insan yang berjodoh selalu indah. Cara yang membuat saya berpikir bahwa hidup kita tak bisa dibagi dengan sembarang orang, hanya satu orang yang akan bisa : jodoh kita.

Kemudian muncul pertanyaan, “Bagaimana kita tahu dia jodoh kita atau bukan?”
Belum ada alat yang bisa mendeteksi level jodoh sepasang manusia. Semacam tes psikologi pun saya rasa tidak akan pernah bisa bekerja dengan sempurna. Tapi kita tidak perlu khawatir, bukankah Allah sudah memberikan manusia tool bernama hati? Yang bisa secara aneh dan sulit dijelaskan bergetar manakala mata tak sengaja beradu pandang dengan seseorang yang teduh perangainya. Yang bisa secara aneh dan sulit dijelaskan berbunga-bunga manakala tak sengaja bertemu raga dengan ia yang baik hatinya.

Dengan hati, kita bisa merasakan banyak hal bukan? Menurut saya ini merupakan mekanisme alamiah yang Allah berikan pada kita. Untuk itulah mengapa memiliki hati yang bersih menjadi penting, sama pentingnya bagi pengguna kacamata untuk menjaga kacamatanya agar selalu bersih. Kacamata yang bersih memungkinkan mata untuk melihat lebih jelas. Hati yang bersih memungkinkan mata hati untuk melihat lebih jernih. Dampaknya, kita bisa lebih jelas menentukan pilihan. Kacamata yang kotor membuat kita tidak bisa melihat dengan jelas. Akibatnya, kita bisa salah mengira. Orang A bisa kita anggap orang B. Hati yang kotor membuat kita tidak bisa melihat dengan jernih. Akibatnya, kita bisa salah menentukan. Sesuatu yang baik terlihat buruk, sementara sesuatu yang buruk terlihat baik.

Hati juga berfungsi sebagai alat pemancar gelombang. Frekuensi gelombang setiap hati berbeda-beda. Setiap hati yang memiliki kesamaan frekuensi gelombang akan berada pada satu kelompok yang sama. Karenanya, ada ungkapan bahwa jodoh adalah tentang kesamaan frekuensi hati. Ia yang berfrekuensi XXX akan bertemu secara otomatis dengan ia yang berfrekuensi XXX pula. Jika demikian, maka mudah saja jika kita ingin bertemu dengan dia yang berfrekuensi tertentu, samakan saja frekuensi hati kita dengannya.

Selain hati, rupanya ada perangkat lain yang bisa kita manfaatkan agar kita tahu apakah ia jodoh kita atau bukan, ialah doa yang satu paket dengan prasangka baik.

Doa adalah hal penting dalam hal ini. Karena dengan berdoa, artinya kita melibatkan Allah secara langsung untuk memberikan takdir terbaik untuk kita jalani. Doa terbaik adalah doa yang disertai dengan kepasrahan dan prasangka baik kepada Allah. Dengan menyertakan kepasrahan, berarti kita benar-benar siap menerima ketentuan apapun. Dengan menyertakan prasangka baik, berarti kita siap menjalani ketentuan itu dengan perasaan positif terhadap Allah.

Cara lain untuk tahu apakah ia jodoh kita atau bukan, adalah dengan menikahinya (you don’t say lol). Jika kita sudah berusaha memantaskan diri dan mencari yang terbaik menurut hati bersih kita. Di saat yang sama kita juga berdoa kepada Allah agar diberi yang terbaik. Maka semestinya dengan siapapun kita menikah, kita akan yakin bahwa ia memang jodoh kita. Bahwa ia memang seseorang yang ditakdirkan untuk mendampingi kita di sisa usia kita. Dan bahwa ia adalah satu-satunya orang di antara milyaran manusia single yang diciptakan untuk menjadi teman hidup kita.

Kemudian kita pun akan sampai pada satu kesimpulan. Bahwa kita tidak bisa tidak berjodoh dengannya. Karena apa? Karena kita memang ditakdirkan untuk begitu.

wallahu a'lam.

1 comment:

  1. hidup adalah pilihan so pilihlah yang terbaik

    ReplyDelete

Copyright © 2016. Designed by Ismi Islamia Fathurrahmi