Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Self Reminder

Pusaran Kebaikan

Sudah menjadi fitrah manusia bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Sejak manusia itu dilahirkan sampai kemudian kelak meninggal dunia, manusia butuh manusia lainnya. Bahkan kadang untuk melakukan sebuah kebaikan sekalipun, kita butuh bantuan orang lain. Kebutuhan terhadap orang lain itulah yang kemudian secara alamiah menggerakkan kita untuk mencari komunitas. Biasanya kita akan cenderung pada orang-orang yang satu frekuensi . Entah itu karena kesamaan pemikiran, kesamaan hobi, kesamaan ideologi, kesamaan kebiasaan, bahkan kesamaan tujuan. Dalam Islam kita diarahkan untuk berkumpul dengan orang-orang sholeh. Bukan berarti islam itu eksklusif. Perintah untuk berkumpul dengan orang-orang sholeh itu lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat prinsipil. Misalnya yang terkait dengan akidah dan ibadah. Dari sanalah kemudian muncul istilah pengajian, mentoring ataupun liqo’. Mengapa Islam menekankan pentingnya berkumpul dengan orang-orang sholeh? Karena berkumpul denga...

Perasaan Tidak Berdosa

Jangan pernah merasa bahwa diri kita suci, merasa diri mulia, merasa diri paling agung, merasa diri paling benar, merasa diri paling hebat, dan merasa diri penuh dengan kelebihan. Jangan pernah menganggap bahwa diri kita tidak punya salah sama sekali. Terlebih, jangan pernah menganggap diri kita tidak punya dosa terhadap Allah dan sesama manusia. Sebab 'perasaan tidak berdosa' itu adalah dosa. Sebagai seorang mukmin kita di tuntun dalam ibadah yang sangat agung yaitu sholat, misalnya. Dzikir yang di tuntun pertama seusai sholat adalah istighfar. Bahkan dalam ibadah pun juga perlu di istighfari. Ini merupakan salah satu upaya agar kita tidak merasa diri ini paling suci dan paling benar. Agar kita tidak merasa bangga dengan segala ibadah kita. Apalagi ibadah yang lain, terutama ucapan kita yang terkadang sering menyalahkan orang lain. Menganggap orang lain buruk dan salah. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak membutuhkan ibadah kita sedikitpun. Oleh sebab itu jang...

Menjaga Izzah dan 'Iffah

Rasa malu itu ibarat mahkota bagi para muslimah. Muslimah yang memiliki rasa malu cenderung lebih mampu menjaga izzah dan 'iffahnya. Tentang rasa malu ini, para muslimah perlu belajar banyak dari Maryam & Fatimah. Maryam pernah diuji dengan penampakan malaikat Jibril yang tampan lagi gagah, hingga dalam Al Qur'an dikiaskan sebagai “ manusia yang sempurna ” saking mempesonanya (lihat QS. Maryam ayat 17). Sedangkan Fatimah, pernah diuji dengan perasaan cintanya kepada Ali yang tumbuh sebelum waktunya. Bagaimana Maryam dan Fatimah menyikapi ujian yang Allah datangkan tersebut ?  Apakah ujian itu kemudian membuat Maryam dan Fatimah jadi baperan ? Nope , jawabannya tentu saja tidak.  Lantas apa yang dilakukan Maryam? Maryam kala itu, memilih untuk bersikap elegan. Ditundukkannya pandangan dengan penuh rasa malu sekaligus takut kepada Allah. Lalu Maryam mengumpulkan segenap keberaniannya dan dengan tegas berkata: “Sungguh aku berlindung kepada Allah yan...

Waktu dan Prioritas

Beberapa waktu belakangan ini saya sedang menghadapi hari-hari yang Alhamdulillah padat. Di satu sisi saya merasa senang dengan ke-hectic-an ini, namun di sisi lain saya juga merasa kewalahan. Senang, karena dengan semua kesibukan ini, saya dapat sedikit teralihkan dari memikirkan hal-hal negatif, tentang sudah menjadi pribadi yang bermanfaatkah saya? Kapan saya dapat membahagiakan keluarga saya, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang rasa-rasanya belum juga berujung sebuah jawaban. (loh malah curhat :p) Sedih karena seringkali saya belum dapat memanage waktu saya dengan baik. Sehingga kadang ketika berhadapan dengan banyak deadline saya masih merasa keteteran bahkan kondisi badan malah drop. Akhirnya tidak maksimal disana sini. Rasa-rasanya waktu 24 jam sehari itu kurang sekali. Waktu rasanya cepat sekali bergulir. Padahal katanya kalau sampai kita merasa bahwa hari terasa cepat sekali berlalu artinya kita terlalu menikmati dunia kan. astaghfirullahal 'adzim :(

Auto Bersyukur

Perjalanan kemanapun adalah tempat merenung ternyaman kedua bagi saya. Saya bisa nangis, ngomong, cerita sendiri tanpa orang lain tau dan peduli, dalam hati tentunya. Pagi itu dalam perjalanan, tepat beberapa meter dari lampu merah, saya melihat ada sebuah gerobak dari kejauhan. Setelah beberapa menit mendekat, perenungan saya pun buyar. Mashaa Allah.. yang punya gerobak adalah bapak-bapak paruh baya, dengan 3 anaknya yang naik di atas gerobaknya. Sekilas sepertinya ketiga anaknya itu umurnya gak jauh beda. Hmm gak kebayang kalo saya ada di posisi mereka. Entah saya sebagai orang tuanya, atau sebagai anaknya. Apa ya yang bakal diucapin orang tuanya buat meyakinkan anaknya kalo mereka bakal baik baik aja di jalanan yang zuuuper duper panas? Trus, gimana kalo pada laper atau ngantuk, pada tidur dimana? Sementara gerobaknya diisi barang-barang yang dicari bapaknya. Dan bapaknya harus dorong gerobak yang berisi barang-barang dan ketiga anaknya. Keliling! Trus gimana y...

Berkicaulah yang Baik, atau Diam

Jadi ternyata, peristiwa-peristiwa kecil yang kita alami atau bahkan hanya sekedar hasil pengamatan kita atas orang lain mampu memberikan pelajaran besar untuk kita. Ini baru terpikir oleh saya beberapa waktu yang lalu ketika saya terlibat sebuah percakapan dengan seseorang. Siang itu, seseorang mendekat, membuka percakapan dengan saya. Saya sama sekali tidak keberatan menanggapi sebuah percakapan, terlebih saya sedang tidak punya sesuatu yang harus dikerjakan. Tapi kemudian saya kecewa ketika ternyata yang hendak ia bicarakan adalah tentang “ orang lain ”. Lebih tepatnya, “ keburukan orang lain ”. Dia seolah mengajak saya terlibat dalam sebuah diskusi mengenai seseorang yang sama-sama ada dalam daftar pertemanan kami. Seseorang itu, yang tengah ia bicarakan, memang tidak terlalu saya kenal secara personal meskipun kami sudah saling mengenal. Dan lagi, sekalipun tidak begitu dekat, saya tahu siapa keluarganya dan bagaimana keluarganya. Mereka, baik. Baik sekali. Sejauh saya menge...

Adab Berpakaian dalam Islam

Agama Islam adalah agama sempurna. Segala hal telah diatur sedemikian rupa. Dari hal besar sampai hal kecil. Dari hal penting sampai hal sepele. Dari bersujud kepada Allah, sampai dengan cara beristinja' sesuai kaidah islam. Coba pelajari, agama mana yang mau masuk kamar mandi saja ada aturannya. Agama mana yang sekadar urusan bersin saja, ada aturannya. Coba cari di agama lain. Adakah aturan-aturan mendetail seperti ini? Karena sejauh yang saya tahu, tidak ada.  Makanya pernah ada ungkapan seorang non muslim, "Jangan mencampurkan agama dengan politik",  simply karena dalam agama dia, banyak hal tidak ada landasan hukumnya. Aturannya sederhana, berbuat baik, ibadah, selesai. Tidak dirincikan berbuat baik itu seperti apa, tidak dirincikan ibadah itu seperti apa. Agama Islam memang agama yang sempurna. Segala hal diatur. Menjadi orang tua, menjadi anak, menjadi suami/istri, bertetangga, bersaudara, berkeluarga, berdagang, bepergian, berbisinis, berpolitik, dsb. I...

Menjadi Dewasa

Beberapa orang tanpa sadar kehilangan damai sejahtera.  Sedih. Ketika kita tahu bahwa kita sedang dipelihara, namun masih saja ‘mau’ dikendalikan oleh perasaan. Bukan berarti antipati atau mati rasa sehingga tidak peka dengan apa yang terjadi di luar. Mudah bagi kita untuk tersenyum, tertawa, berbagi, bahagia ketika kita dalam keadaan mood yang baik. Bagaimana bila orang-orang disekitar membuat keributan, menyakiti, bahkan tidak memahami sikon dalam hati kita? Berbuat baik pada orang yang berlaku baik itu wajar banget, manusiawi tapi yang spesial yakni saat ada yang masih mengecewakan tapi kita memilih untuk melepaskan pengampunan. Akan ada orang yang bergunjing dan menilai kita bodoh atau bahkan sok suci. Itu tidak menjadi masalah saat kita sendiri, pribadi kita yang mau hidup bebas dari kebencian, kemarahan, dan kekecewaan.

Kuantitas dan Kualitas

Andaikan sebuah kemenangan ditentukan oleh kuantitas, maka sudah seharusnya pada saat perang Badar dahulu umat Muslim terkalahkan. Andaikan sebuah kemenangan ditentukan oleh kuantitas, maka sudah seharusnya umat Muslim bisa dalam sekejap itu menang melawan pasukan Byzantium menaklukkan konstantinopel. Andaikan kuantitas adalah jaminannya. Namun sayang.. bagi Allah kuantitas bukanlah penentu suatu kualitas. Ketika umat muslim di dunia berjumlah sangat banyak, namun pada kenyataannya dunia semakin bermuram durja. Dunia semakin jauh dari kata keadilan. Dunia semakin terpuruk, merana tahta dan kualitas. Dunia semakin tercekik oleh keserakahan. Dunia hilang arah, kemana seharusnya dia menuju. Kuantitas tak selamanya menjadi penentu baiknya kualitas. Kini hadirlah kita pada suatu zaman dimana umat Islam seperti buih di lautan. Mengambang, terombang-ambing begitu saja tanpa tujuan. Mau kemana, ya mengikuti ombak. Sayang, dia tidak punya pendirian. Desiran yang dahsyat k...

Ular atau Kue

Jika di hadapanmu ada dua hal: ular berbisa dan kue favorit, mana yang akan kau perhatikan? — Aa’ Gym Ular atau kue? Secara naluri, kita lebih suka memperhatikan hal-hal yang kita sukai dan mengabaikan hal-hal yang tidak kita sukai. Seharusnya KUE, kan? Tapi sayangnya, jawaban yang tepat untuk pertanyaan di atas adalah..ULAR. Kue adalah kiasan untuk berbagai macam perkataan makhluk yang lazim kita dengar sebagai pujian. Ohya, jujur saja, memangnya siapa di dunia ini yang tidak suka dengan pujian? Sedangkan ular adalah kiasan untuk berbagai macam kata-kata yang kita persepsikan sebagai kritikan, yang yah… akui sajalah kalau itu lebih sering membuat kita kurang nyaman. Kritikan memang pahit, bahkan menyakitkan. Tapi bagaimana kalau itu adalah cara Allah agar kita memperbaiki diri? Bukankah itu jauh lebih baik daripada kita yang bangga berselimutkan pujian manusia, padahal mereka tidak tahu sebusuk apa kita. Bagaimana jika pujian membuat kita berhenti untuk memper...

Menjaga Diri

Are you single? Are you sure? Biasanya ikhwan ataupun akhwat itu single alias jomblo. Tapi apakah benar mereka single 100%? Begini. Tujuan saya membuat tulisan ini adalah sebagai bentuk kritik membangun bagi para ikhwan maupun akhwat. Saya rasa semua sepakat jika menjaga diri, menjaga kehormatan diri itu perlu dan harus. Saya rasa semua sepakat jika pacaran itu memang dilarang dalam agama, dan pasti para aktivis dakwah tau hal ini dengan sangat baik.  Memang, jarang saya temui ikhwan/akhwat yang diam-diam pacaran. Yaa karena mereka benar-benar single.  Oke ganti topik. Sekarang media sosial sudah bukan menjadi hal yang wow. Iya kan? Whatsapp, BBM, Viber, Instagram, Facebook, Twitter, Line, G+ dan masiiih banyak lagi. Disinilah titik yang ingin saya kritisi.  Oke, memang yang namanya ikhwan akhwat jarang banget interaksi empat mata. Rapat aja mesti pake hijab. Jadi nggak bisa saling tatap muka. Oke, itu memang udah cukup baik. Dan memang sudah seharusnya...

Yang Belum Halal

Setan: “Kalian berdua cocok sekali lho. Sudah, kalau dia lambat, lebih baik kamu yang lebih dahulu kode-kode saja. Aku yakin, sebenarnya diam-diam kalian berdua itu saling kagum bahkan saling suka. Sekarang coba kamu ngaca, kenali dirimu. Siapa sih yang nggak mau sama perempuan macem kamu? Kamu juga. Bukannya kamu sedang ingin memperdalam agama? Kamu butuh teman yang bagus agamanya. Mumpung ada yang sealim dia, coba aja kamu dekati. Coba kamu pikirkan, kapan lagi kecocokan berbanding lurus dengan kesempatan? Tunggu apalagi? Minimal kode-kode sana. Buruan nanti diambil cewek lain yang lebih sering interaksi sama dia!” Malaikat: “Kamu sudah siap? Seshalih/shalihah apapun manusia, sesuami-able se-istriable apapun manusia, itu semua bukan alasan untuk melegitimasi perilaku kita yang menyimpang dari apa-apa yang Dia perintahkan. Bukannya sebelum halal maka hati itu harus dijaga hanya untuk Tuhan? Meskipun kalian nggak pacaran, kalau saling kode-kode bagaimana? Status memang single, ...

Fitrah dan Fitnah

Saya tidak bisa menyalahi fitrah, karena ia turun langsung dari tangan Yang Maha Kuasa. Tapi, saya sadar ketika saya sudah mengenyampingkan rasa suka ini menjadi fitnah, maka hancurlah saya. Fitrah dan fitnah tidak akan pernah berteman baik karena keduanya adalah sesuatu yang bertolak belakang. Rasa suka itu fitrah. Namun, bagaimana ia tetap fitrah adalah tanggung jawab kita pada diri sendiri dan amanah dari Allah untuk tetap kita pertahankan secara fitrahnya, sesuai dengan yang Allah suka. Mungkin kita akan diam ketika rasa suka itu menjalari perasaan. Bukankah itu yang seharusnya kita lakukan? Tidak mengumbarnya, atau malah menginginkan dia menyukai kita juga. Bukankah itu hampir menjurus ke fitnah? Fitrah yang melenceng kepada fitnah, bentuknya juga bisa berupa, 'setiap saat kalian panjatkan doa untuknya. Kau berkata bahwa kau menyerahkan perasaan ini sepenuhnya kepada Allah, namun kenyataannya, kau mengkhianati kata-kata itu dengan kau mengingatnya sepanjang hari. H...

Keinginan

Hidup ini tidak akan pernah lepas dari sesuatu bernama keinginan . Keinginan untuk makan dan minum, keinginan menjadi kaya, keinginan sekolah di tempat terbaik, keinginan untuk menikah dan mendapat pasangan yang sempurna, keinganan menjadi orang hebat dan dipandang orang. Barangkali keinginan menjadi sebuah tanda keberadaan hidup manusia. Jika tak punya keinginan, maka untuk apa manusia hidup? Ada orang yang begitu mudah untuk mendapatkan keinginannya. Ada juga yang perlu berkali-kali gagal baru kemudian bisa mencapainya. Ada yang sudah berkali-kali gagal, namun Allah menggantinya dengan yang lain. Ujian Allah itu sesuai kadar iman makhluknya. Seringkali manusia diuji pada titik terlemahnya. Diuji dengan rasa malasnya, rasa iri dengan keberhasilan orang lain, diuji dengan kelapangan harta dan keluangan waktu. Setiap manusia tentu punya keinginan. Keinginan yang serupa tapi tak sama. Keinginan yang sama dengan jalan yang berbeda. Ibarat dua anak kembar berjenis kelamin sama. ...

Suka Mengeluh

“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kerusakan  dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan salat, mereka yang tetap setia melaksanakan salatnya dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta, dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya." (Al Ma’arij 19-27) Jelas banget kan Allah menjelaskan kepada kita, bahwa manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Iya banget, pantesan galau terus ya. Dikit-dikit galau, muram, bingung, ngeluh, sedih, nangis, atau apapun kata yang menunjukkan bahwa kita meratapi nasib dengan keluhan.  Di ayat setelahnya, Allah menjelaskan kembali bahwa kita saat ditimpa kerusakan, masalah, musibah, atau cobaan, selalu berkeluh kesah. Ehhh, pas dapat kenikmatan jadi kikir. Wah, jangan heran kalau di Indonesia begini-be...

Ujian Istiqamah

Bahwa benar adanya, Allah akan menguji seorang hamba pada titik terlemahnya . Baru saja keputusan membulat, sudah dibuat-Nya kembali acak-acak. Keyakinan atas suatu hal menjadi semacam badai yang harus dihadapi seorang pelaut handal. Semacam petualang yang bersiap menghadapi rimba. "Jangan main-main" , Kata-Nya. Bahwa sikap bukanlah wujud dari bahasa lisan, tapi ialah amal perbuatan. Bahwa komitmen pada diri sendiri tidaklah bersifat permanen tapi temporal. Bahwa perjanjian dengan Allah adalah tentang berniaga dan berkorban. Apalah arti kata cukup dan selamat tinggal saat tamu tak diundang kembali datang tanpa undangan. Berlenggang. Tidak peduli bahwa ada orang lain yang sedang berusaha mencari alasan untuk tidak membuka pagar. Pagar itu terus diretasnya, hingga sampailah ia di pintu depan. Mengetuk, dan mengetuk.

Menilai Kadar Iman

Ada orang yang ‘kelihatannya’ tak pernah berdosa dan dekat dengan Tuhan, namun dalam hatinya penuh dengan ketidak-tulusan dalam setiap pendekatan kepada-Nya. Raganya memang bersujud, namun siapa yang tau apa yang ada dalam pikirannya ketika ia sujud? Apakah dimaknai dengan memuji kesucian Tuhan, atau sekedar rukun ibadah belaka? Ada orang yang ‘kelihatannya’ pendosa dan jauh dari Tuhan, namun dalam hatinya tak henti menyebut nama-Nya pagi,sore,siang,malam dengan bahasa kerinduan yang amat mendalam. Baginya tak ada perjumpaan yang lebih indah dibandingkan perjumpaan dengan Rabbnya. Rabb tempat ia mengadu, berkeluh kesah, berpasrah, dan kembali. Cukuplah itu menjadi urusan Yang Maha Tau. Tapi terkadang manusia memang sok tau. Seringkali menilai kadar iman seseorang dari apa yang terlihat. Padahal itu bukan kewenangannya. Iman tersimpan rapat dalam hati, dan tak satupun manusia dapat mengetahui selain Dia. Bahkan kita pun tak bisa mengukur iman kita sendiri. Hanya Allah-lah yan...

Membaca Al-Fatihah dalam Shalat

Hmm, pernah gak saat lagi berjama’ah dimasjid, shalat kita jadi kurang khusyuk karena dalam hati ada bisik-bisik syaitan yang ngedumel, “Duh ini imamnya baca Al-fatihah lama amaaat sih ya, kalo shalat sendiri mungkin udah nyampe baca surah pendek kali.” Hayooo pasti semua pernah mikir gitu kan? Hehe. Pak imam in shaa Allah punya alasan mengapa beliau membaca ummul Qur’an dalam shalatnya secara perlahan. Nah taukah kalian, kalo disaat kita selesai membaca satu ayat dari surah Al-Fatihah, Allah menjawab setiap ucapan kita? Maka dari itu kita disunahkan berhenti sejenak setiap selesai membaca satu ayat, itulah yang mungkin membuat pak imam selalu membaca Al fatihah nya dengan perlahan dan dengan jeda yang sedemikian. Dalam Sebuah Hadits Qudsi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Aku membagi shalat menjadi dua bagian, untuk Aku dan untuk hamba-Ku”. Artinya, tiga ayat diatas: Iyyaka Na’budu Wa iyyaka nasta’in adalah hak Allah, dan tiga ayat kebawahnya adalah urusan hamb...

Apa Kiranya Perasaan Kita ?

Apa kiranya perasaan Ash Shiddiq saat Nabiﷺ bersabda, “Andai kuambil kekasih di antara insan, pasti kujadikan Abu Bakr sebagai Khalilku ” ? Apa kiranya perasaan ‘Umar, saat dia berpamit ‘umrah & Nabiﷺ bersabda padanya, “Jangan lupakan kami dalam doamu duhai saudara tersayang” ? Apa kiranya perasaan ‘Utsman saat membekali pasukan Tabuk & Nabiﷺ bersabda, “Tiada bahayakan ‘Utsman apapun yang ia lakukan setelah ini” ? Apa kiranya perasaan ‘Ali kala Nabiﷺ bersabda, “Hanyasanya kedudukanmu di sisiku laksana Harun di sisi Musa, tapi tiada Nabi sesudahku” ? Apa kiranya perasaan Thalhah saat Nabiﷺ bersabda, “Siapa yang ingin melihat syahid yang masih berjalan di atas bumi, lihatlah Thalhah” ? Apa kiranya perasaan Az Zubair saat Rasulullahﷺ bersabda, “Setiap Nabi memiliki Hawari, dan Hawariku adalah Zubair ibn Al ‘Awwam” ? Apa kiranya perasaan Abu ‘Ubaidah saat Nabiﷺ bersabda, “Setiap ummat memiliki Amin, dan orang kepercayaan ummat ini adalah Abu ‘Ubaidah” ?...

Demi Masa

Banyak orang yang larut dalam hal-hal yang menghabiskan waktu . Tapi sebenarnya apa semua orang paham artian makna dari waktu ? Bila kamu ingin tau apa arti 1 tahun, tanyakanlah pada siswa yang tak naik kelas. Bila kamu ingin tau apa arti 1 semester, tanyalah pada mahasiswa yang telat lulus kuliahnya. Bila kamu ingin tau arti 1 bulan, tanyalah pada seorang ibu yang melahirkan bayi prematur. Bila kamu ingin tau arti 1 minggu, tanyalah pada seorang editor koran mingguan. Bila kamu ingin tau arti 1 hari, tanyalah seorang wanita yang menunggu hari pernikahannnya di esok hari. Bila kamu ingin tau arti 1 jam, tanyalah pada seorang pengusaha yang terlambat menemui investor potensialnya.