Skip to main content

Posts

Showing posts with the label story

Radar Iman

Mari belajar tegar dari sosok Hajar, ibunda Nabi Ismail 'alaihi salam. Bagaimana tatkala sang suami, Nabi Ibrahim 'alaihi salam, terpaksa harus meninggalkan dirinya bersama bayinya yang masih merah di padang pasir nan tandus dan gersang. Dalam kebingungan dan ketidak-mengertiannya, Hajar berlari mengejar sang suami, mencoba menghalangi langkahnya untuk pergi, sambil bertanya:  “Mengapa engkau tinggalkan kami?” . Yang ditanya tak menjawab bahkan mengindar kala ditatap. Alih-alih berhenti, sang suami justru mempercepat langkah kaki. Hajar terus berusaha mengejar, dihalang-halanginya sang suami sekuat tenaga. Lalu Hajar kembali bertanya: “Mengapa engkau tinggalkan kami?” Tetap tak ada jawaban. Sang suami masih diam membisu bahkan memilih untuk terus berlalu. Sesaat sebelum berlalu, pandangan mata mereka sempat bertemu. Hajar melihat ada duka sedalam cinta di kedua mata suaminya. Radar imannya menyala, Hajar pun mengganti pertanyaannya:  “Apakah ini perintah Allah?...

Belajar dari Surat Nabi Muhammad Kepada Heraklius (Kaisar Romawi)

Telah menceritakan kepada kami (Abu Al Yaman Al-Hakam bin Nafi’) dia berkata, telah mengabarkan kepadaku (Syu'aib) dari (Az-Zuhri), telah mengabarkan kepadaku (Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas'ud) bahwa (Abdullah bin 'Abbas) telah mengabarkan kepadanya bahwa (Abu Sufyan bin Harb) telah mengabarkan kepadanya, Bahwa Heraklius menerima rombongan dagang Quraisy yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke negeri Syam, pada saat berlakunya perjanjian antara Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy. Saat singgah di Illiya’ (Yerussalem) mereka diundang Heraklius untuk berbicara di majelisnya. Saat itu, Heraklius bersama dengan para pembesar negara Romawi. Heraklius berbicara dengan mereka melalui penerjemah. Heraklius : Siapa diantara kalian yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan orang yg mengaku sebagai Nabi itu?

Kecintaan Abu Bakar Ash-Siddiq Terhadap Rasulullah

Betapa ia hanya memikirkan Nabi tanpa peduli diri sendiri, padahal mereka berdua sama sama mengarungi perjalanan berat. "Kulihat Nabi Muhammad Sallallahu 'alaihi wasallam telah memejamkan mata. Aku berjalan berkeliling untuk memastikan keadaan. Kunaiki sebuah bukit. Dari sana kulihat seorang penggembala bersama sekawanan kambing gembalaannya. Aku berjalan menujunya dan kutanya siapa gerangan pemilik kambing tersebut. Ia menyebutkan nama seseorang dari Mekkah yang kukenal dan baik pula hubungan ku dengannya. Aku lalu minta diperahkan semangkuk susu. Cuaca yang terik membuat susu kambing itu panas, maka aku pun menuang-nuangkan air di kulit tempat susu itu hingga menjadi dingin, kemudian membawakannya kepada Nabi." "Ketika kulihat beliau telah bangun, kusodorkan semangkuk susu itu sambil kuceritakan asal mula aku memperolehnya. Aku tahu Nabi pastilah lapar dan haus dan semangkuk susu dingin di tengah terik matahari seperti ini adalah impian bagi siapa pun ya...

Kekuatan Doa

Saat pertama kali bumi diciptakan, bumi selalu bergoyang, bergoncang & tidak berputar dgn stabil, malah tidak berputar pada paksinya. Perkara ini merunsingkan para malaikat. Kemudian para malaikat menghadap Allah s.w.t, "Wahai Rabb Yg Maha Mengetahui, mengapa bumi ini bergoyang?" tanya para malaikat. "Karena belum dipaku." Jawab Allah singkat. "Lalu, bagaimana Engkau memaku bumi wahai Rabb? " tanya malaikat lagi. "Aku akan menciptakan gunung ganang." jawab Allah. Setelah itu, Allah terus menciptakan gunung ganang di berbagai belahan bumi. Apa yg terjadi sememangnya benar. Setelah diciptakan gunung ganang, bumi pun diam kemudian berputar sesuai paksinya. Maka kemudian gunung dikenali sbg paku bumi yg diciptakan Allah s.w.t.  Paku merupakan benda keras yg terbuat dr besi. Setelah Allah menciptakan paku bumi yaitu gunung ganang, kemudian para malaikat bertanya lagi, "Ya Rabb, adakah yg lebih kuat dari paku?" ...

Buih Di Atas Lautan

Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Akan datang suatu masa, dalam waktu dekat, ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam) bersatu-padu mengalahkan (memperebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar mereka”. Salah seorang sahabat bertanya: “Apakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu sedikit?” Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam menjawab: “Tidak! Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan (yang terombang-ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian ‘wahn’.” Seorang sahabat Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ‘wahn’ itu?” Dijawab oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam, “Cinta kepada dunia dan takut (benci) kepada mati”. - (at-Tarikh al-Kabir, Imam Bu...

Harta Rasulullah

Semenjak Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam diangkat oleh Allah menjadi Utusan-Nya, beliau tidak memiliki harta apapun karena seluruhnya dibelanjakan demi tegaknya Islam. Jika ada orang muslim yang tak punya pakaian mendatangi beliau, beliau biasa meminta bantuan Bilal, yang juga merupakan muadzin beliau, untuk meminjam sesuatu dari orang lain dan membelikan orang itu pakaian dan makanan. Suatu saat, ada seorang dari kalangan musyrikin datang kepada Bilal. Orang itu mengetahui kebiasaan Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam. Ia berkata, “Wahai Bilal, aku bisa memberimu pinjaman. Karena itu pinjam saja padaku, tak usah kamu pinjam kepada orang lain.” Bilal pun menerima tawaran itu dengan senang hati. Sejak saat itu, Bilal pun terkadang meminjam pada orang itu. Pada suatu hari, Bilal berwudhu lalu bergegas untuk mengumandangkan adzan, sementara orang musyrik itu sedang berdiri di tengah kerumunan pedagang. Ketika melihat Bilal, ia berseru, “Wahai Orang Habsyi!” ...

Menyederhanakan Dunia

Dikisahkan dengan indah tatkala Umar bin Khathab menemui Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam di kamar beliau, lalu Umar mendapati beliau tengah berbaring di atas sebuah tikar usang yang pinggirnya telah lapuk. Jejak tikar itu membekas di punggung beliau, sebuah bantal yang keras membekas di bawah kepala beliau, dan jalur kulit samakan membekas di kepala beliau. Di salah satu sudut kamar itu terdapat gandum sekitar satu gantang. Di bawah dinding terdapat qarzh (semacam tumbuhan untuk menyamak kulit). Dengan haru bercapur sedih air mata Umar bin Khathab menetes. Ia tidak kuasa menahan tangis karena iba dengan kondisi pimpinan tertinggi umat Islam itu. Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam melihat air mata ‘Umar yang berjatuhan, sepenuh cinta Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam lalu bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai Ibnu Khathab?” Umar, dengan kata-kata yang bercampur-aduk dengan air mata dan perasaannya yang terbakar menjawab,  “Wahai Nabi Allah,...

Cinta Tanpa Syarat

Dan seorang sahabat yang bernama Thouban datang seraya berkata “Wahai Rasulullah, apakah kami harus pergi ke surga?” Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam bersabda “Memangnya ada apa Thouban? Kenapa kau bertanya seperti itu?” Thouban berkata “Karena di hari kiamat nanti, Allah akan memberikanmu buku catatan amal yang penuh dengan begitu banyak amal baik, kau akan berada di tempat yang tinggi bersama para nabi dan anbiyya, sedangkan orang-orang seperti kami akan berada di surga tingkat rendah. Wahai Rasulullah, apa tujuannya berada di surga jika kami tidak bisa bersamamu? Tidak bisakah kita tinggal di Madinah saja dan menikmati kehidupan dimana kita bangun bersama, duduk bersama, dan shalat bersama?” Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya “Kau akan bersama dengan seseorang yang kau cintai. Belajarlah caranya mencintaiku, maka kau akan bersamaku.” Wallahu a'lam. source

Taubat Wanita Pezina di Zaman Rasulullah

Dalam sejarah Islam telah tercatat sebuah kisah pertaubatan menakjubkan yang pernah diketahui oleh manusia. Sebuah kisah tentang taubat seorang  wanita yang berzina di zaman Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam. Suatu hari ketika Rasulullah bersama para sahabatnya di masjid tiba-tiba datang seorang wanita yang berhijab dengan baik. Semua sahabat mengenalnya sebagai seorang ummahat yang shalihah. Wanita itu berjalan menuju Rasulullah dg perlahan. Pada hari itu wajahnya dipenuhi ketakutan dan kesedihan yang sangat. Takut, gentar, sedih, malu terpancar jelas dr raut wajahnya. Hingga sampailah ia dihadapan Rasulullah. Ia berdiri dihadapan Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam dan ia mengatakan bahwa ia telah berzina. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah melakukan (maksiat yang mewajibkan adanya) hukuman had (atasku), maka sucikanlah aku!” Matanya pun tak kuasa membendung air matanya. Hatinya remuk redam tak mampu membayangkan betapa besar dosa yang telah...

Taqwa

Umar bin Khattab ra. bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa.          Ubay bin Ka'ab: Apakah kamu pernah menempuh jalan berduri?     Umar bin Khattab: Pernah     Ubay bin Ka’ab: Apa yang kamu lakukan?      Umar bin Khattab: Aku berusaha keras dan bersungguh-sungguh.     Ubay bin Ka’ab: Itulah taqwa. ”Itulah taqwa, kepekaan hati nurani, kebeningan perasaan, rasa takut yang terus-menerus, kehati-hatian yang langgeng, dan kewaspadaan terhadap duri-duri jalan.” - Sayyid Qutb source

Jaminan Surga Bagi yang Bersedekah

Habib Abi Muhammad adalah orang saleh yang selalu menunaikan kewajibannya sesuai perintah Allah serta mengerjakannya berdasarkan hadits Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam. Suatu hari, saat mengikuti pengajian di sebuah masjid, Habib Abi Muhammad sangat terenyuh dengan ketulusan Abu Bakar As-Shidiq dalam bersedekah. Tanpa keraguan sedikit pun, ia mengikuti jejak khalifah pertama amirul mukminin dan berkata, “Demi Allah, saya akan memperhatikan apa yang dikerjakan Khalifah Abu Bakar itu dengan hartanya” Habib Abi Muhammad kemudian membelanjakan sedekah 40.000 dinar ke dalam empat bagian dan berkata, “Demi Allah, saya membeli diriku karena Allah sebesar 10-000 dinar” Setelah itu ia berkaia lagi, “Demi Allah, aku bersyukur karena aku telah mendapatkan hidayah untuk bersedekah. Maka aku keluarkan sedekah lagi sebesar 10.000 dinar”

Rasulullah dan Bocah Malang

Hari raya Idul Fitri telah tiba. Sejak pagi-pagi sekali, semua orang sibuk mempersiapkan pesta menyambut lebaran. Kota Madinah dipenuhi suasana gembira. Waktu pelaksanaan shalat Id semakin dekat. Tua-muda dengan mengenakan pakaian terbaru mereka pergi menuju lapangan. Anak-anak turut beserta orangtua mereka, bermain dan bercanda di tempat yang agak jauh dari orang dewasa. Suasana di sekitar lapangan semakin semarak dengan aroma wewangian yang melenakan dari pakaian yang melambai-lambai serta saputangan yang berkibar-kibar ditimpa riuh-rendah suara anak-anak yang tiada henti. Usai shalat Id anak-anak tampak sibuk mengucapkan selamat lebaran. Ketika Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam hendak pulang, beliau melihat seorang bocah bertubuh kurus memakai baju compang-camping, duduk sendirian di salah satu sudut lapangan sembari melelehkan air mata. Rasulullah berjalan menghampiri anak tersebut, dengan penuh kasih sayang mengusap pundaknya dan bertanya, “Mengapa menangis, Nak?...

Kisah: Para Wanita Terpotong Tangannya Ketika Melihat Nabi Yusuf a.s.

Masalah mengenai isteri menteri yang menggoda Yusuf  ternyata tidak bisa ditutup untuk kalangan terbatas. Meskipun terjadi di kalangan masyarakat yang terpandang tidak dapat begitu saja ditutup. Sehingga masalah yang niatnya tidak untuk diketahui orang banyak itu tersebar ke mana-mana. Peristiwa itu tersebar dari satu istana ke istana istana penguasa saa itu. Kemudian wanita-wanita yang tinggal di istana itu mulai ramai-ramai menjadikan bahan pembicaraan. Beberapa saat kemudian kejadian itupun tersebar ke penjuru kota. Sehingga pada akhirnya berita tersebut pindah dari satu mulu ke mulut lainnya, dari satu rumah ke rumah lainnya sehingga sampailah berita yang memalukan itu sampai di terlinga isteri Al Azis atau menteri. Ia pun ingin membuat pembelaan diri dengan mengundang para isteri-isteri pembesar lainnya untuk datang ke rumahnya, untuk dijamu dengan makanan dan minuman. Isteri AL Aziz yang sebelumnya pernah menggoda Nabi Yusuf ini terdiam sebentar, seperti sedang ber...

Wanita Tua Yang Membenci Rasulullah

Tersebutlah seorang wanita tua yang sedang melintasi gurun pasir dengan membawa beban yang berat. Walaupun tampak sangat kepayahan, namun ia tetap berusaha membawa barang bawaannya dengan sekuat tenaga. Tak lama kemudian, seorang laki-laki muda datang dan menawarkan diri untuk mengangkat bawaannya. Wanitu malang itu menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Laki-laki itu pun mengangkat bawaannya kemudian mereka berjalan beriringan. “Senang sekali kamu mau membantu dan menemani, saya sangat menghargainya” , kata wanita itu. Ternyata ia adalah seorang wanita yang senang berbicara. Laki-laki itu pun dengan sabar mendengarkan sambil tersenyum tanpa pernah menginterupsinya. Suatu saat dia berkata pada laki-laki tersebut, “Anak muda, selama kita berjalan bersama, saya hanya punya satu permintaan. Jangan berbicara apapun tentang Muhammad! Gara-gara dia, tidak ada lagi rasa damai dan saya sangat terganggu dengan pemikirannya. Jadi sekali lagi, jangan berbicara apapun tentang Muham...

Rasulullah dan Pengemis Yahudi

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya. Namun, setiap pagi Rasulullah Muhammad Sallallahu 'alaihi wasallam mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam. Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat. Setelah wafatnya Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari, sahabat terdekat Rasulullah Sallallahu 'alaihi w...

Keteguhan Hati Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam

Pada masa-masa awal dakwah Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam di Mekkah, terjadi kegelisahan di antara kaum Quraisy akibat syiar Islam yang gencar disampaikan Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam. Saat itu, Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam ditakdirkan Allah berada di bawah lindungan pamannya, Abu Thalib, yang merupakan salah satu tokoh Quraisy yang disegani. Demi tujuan melenyapkan cahaya Islam, akhirnya kaum kafir Quraisy pun bersepakat untuk membunuh Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam. Namun, sebelum melakukannya, mereka berusaha menjumpai Abu Thalib terlebih dahulu. Suatu saat para pembesar Quraisy datang kepada Abu Thalib. Mereka lalu mengatakan, “Keponakan anda mencaci-maki sesembahan dan agama kami, menyebut kami orang-orang jahil (bodoh). Dia juga mengatakan bahwa nenek moyang kami adalah orang-orang sesat. Sekarang hukum dia atau biar kami yang melakukan. Kami tidak bisa bersabar lagi menghadapinya.” Abu Thalib menyad...

Rasulullah dan Lemparan Batu

Sepeninggal Abu Thalib, gangguan kafir Quraisy terhadap Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam semakin besar. Beliau pun berniat untuk meninggalkan Makkah dan pergi ke Tha’if. Beliau berharap akan memperoleh dukungan penduduk setempat dan akan menyambut baik ajakan beliau untuk memeluk agama Islam. Tak lama kemudian, beliau bersama Zaid bin Haritsah, anak angkat beliau, pergi ke Tha’if. Kabilah terbesar di Tha’if adalah Bani Tsaqif, kabilah yang berkuasa serta mempunyai kekuatan fisik dan ekonomi yang cukup memadai. Mengetahui akan hal ini, Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam menemui pemimpin Bani Tsaqif yang terdiri dari tiga bersaudara. Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan maksud kedatangan beliau dan mengajak mereka untuk memeluk Islam dan tidak menyembah kepada selain Allah SWT. Namun jawaban dari mereka sungguh di luar harapan beliau. Salah satu dari mereka berkata, “Apakah Allah tidak dapat memperoleh seseoran...

Karena Ukuran Kita Tak Sama

“Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya. Memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti. Memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan. Kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi.” Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta. Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,