Chocomous: Manusia Setengah Salmon

Manusia Setengah Salmon


[img:  id.wikipedia.org]
Entah kenapa dari semua bukunya Raditya Dika, saya paling suka buku yang ini. Seriusan deh. Emang gak selucu dan sekonyol ‘Kambing Jantan’ atau yang lainnya, tapi dari segi isi buku ini juara banget.

Masih dengan gaya penceritaan seperti biasa, Raditya Dika ini bisa ngebahas sesuatu yang ‘saya-pernah-ada-di-keadaan-itu’ atau ‘sighs!-itu-saya-banget’ dengan kata-kata yang bagus. Di beberapa cerita malahan bisa kalian temui pesan moral dari cerita tersebut.

Buku ini keluaran gagas media dan sudah bisa dicari di toko-toko buku. Tebal bukunya 258 halaman, harganya 42k. Isinya ada 19 cerita.

Intinya sih temanya buku ini tentang perpindahan. Yang namanya perpindahan pasti gak enak, harus adaptasi lagi, harus memulai dari awal lagi, harus ngajarin lagi, macem-macem lah yang harus dilakukan sebelum akhirnya mendapatkan satu kondisi, nyaman. Nah, bukunya Raditya Dika ini ngebahas proses perpindahan yang pernah dia alami. Dari mulai pindah/ganti rumah, supir, kebiasaan, teman, negara, sampai ke urusan pindah hati. Judulnya, Manusia Setengah Salmon, ini juga konon katanya karena salmon adalah binatang yang mempunyai ritual perpindahan (migrasi) yang hebat setahun sekali untuk bertelur.

Ada beberapa cerita dalam buku ini yang selalu menarik untuk dibaca-baca lagi dan tetep menimbulkan efek yang sama seperti waktu baca pertama kali.

1. Sepotong Hati di Dalam Kardus Coklat
Putus cinta seperti disengat lebah. Awalnya tidak terlalu berasa, tetapi lama-kelamaan bengkaknya mulai terlihat.
Cerita ini galaunya super maksimal. Dimulai dari prologue-nya yaitu diputusin pacar, trus pulang ke rumah dan berpikir sepanjang jalan. Setelah itu pindah rumah karena nyokapnya punya kebiasaan untuk pindah rumah setiap 5-10 tahun sekali. Gak bisa tidur sampai di rumah baru karena wallpapernya Winnie the Pooh.
     Mungkin itu masalahnya, pikir gue. Seperti rumah ini yang jadi terlalu sempit buat keluarga kami, gue juga menjadi terlalu sempit buat dia. Dan, ketika sesuatu sudah mulai sempit dan tidak nyaman, saat itulah seseorang harus pindah ke tempat yang lebih luas dan (dirasa) cocok untuk dirinya. Rumah ini tidak salah, gue dan dia juga tidak salah. Yang kurang tepat itu bila dua hal yang dirasa sudah tidak lagi saling menyamankan tetap dipertahankan untuk bersama. Mirip seperti gue dan dia. Dan dia, memutuskan untuk pindah.
Intinya sih pindah rumah. Yang bisa dianalogikan sebagai pindah hati.
     Putus cinta sejatinya adalah sebuah kepindahan. Bagaimana kita pindah dari satu hati, ke hati yang lain. Kadang kita rela untuk pindah, kadang kita dipaksa untuk pindah oleh orang yang kita sayang, kadang bahkan kita yang memaksa orang tersebut untuk pindah. Ujung-ujungnya sama: kita harus bisa maju, meninggalkan apa yang sudah menjadi ruang kosong. Sama seperti memasukkan barang-barang ke dalam kardus, gue juga harus bisa memasukkan kenangan-kenangan gue dengan orang yang gue sayang ke semacam kardus kecil. Dan, sama ketika kita baru putus, kenangan yang timbul paling kuat adalah yang paling awal. 
Lihat kan? Masih banyak kata-kata yang disusun jadi kalimat yang masih lebih dahsyat dari yang saya tulis disini.

2. Bakar Saja Keteknya

Kalau baca cerita yang ini, saya masih cekikikan. Ceritanya tentang Dika yang pindah supir. Dimulai dari perjalanan menemukan supir yang katanya mirip dengan menemukan belahan hati (lagi) sampai mengatasi problem bahwa si supirnya BB alias Bau Badan. Tapi ngebaca ini bikin iri, gak banyak loh supir yang sifatnya macem Sugiman ini. He’s so lucky to get Sugiman with him.

3. Kasih Ibu Sepanjang Belanda

Ini cerita pengalamannya Raditya Dika waktu ikut summer course di Belanda. Dari mulai dianggap pervert sampai berkenalan dengan orang bule yang bisa menyebutkan namanya dengan baik dan benar (yaitu: Dika *baca Kambing Jantan untuk cerita2 sebelumnya*) tapi ternyata nama si bule yang ngebikin dia terheran-heran. Dan di summer course itu pula akhirnya bisa bersyukur mempunyai ibu yang selalu perhatian walaupun berlebihan.
Seharusnya, semakin tua umur kita, kita tidak semakin ingin mandiri dari orangtua kita. Sebaiknya, semakin bertambah umur kita, semakin kita dekat dengan orangtua kita. Kita gak mungkin selamanya bisa ketemu dengan orangtua. Kemungkinan yang paling besar adalah orangtua kita bakalan lebih dulu pergi dari kita. Orangtua kita bakalan meninggalkan kita, sendirian. Dan kalau hal itu terjadi, sangat tidka mungkin buat kita untuk mendengar suara menyebalkan mereka kembali. Gue gak mau suatu malam, setelah Nyokap pergi, gue melihat handphone dan berpikir seandainya gue bisa denger suara Nyokap sekarang. Saat ini juga, gue pengin setiap waktu yang gue habiskan, gue bisa habiskan dengan mendengar Nyokap berkali-kali nelepon dan nanya,'Kamu lagi apa?'
Dan terusannya, kalimat ini…
Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima. 
Sukses bikin saya terenyuh. And I can’t be more agree with him.

4. Lebih Baik Sakit Hati
Orang yang bilang lebih baik sakit gigi daripada sakit hati, pasti belum pernah sakit gigi. Dan, orang yang belum pernah sakit gigi, belum tahu rasanya jadi dewasa. 
Ini! Bener banget daahh
     Gue jadi berpikir, tumbuh dewasa memang menyenangkan, tetapi tumbuh dewasa juga harus melalui rasa sakit-sakit ini. The pains of growing up.'Pindah' menjadi dewasa berarti siap menghadapi rasa sakit dan melihat hal-hal yang menyakitkan itu sendiri: hadir di pemakaman kakek-nenek, rasa sakit karena gagal masuk ke sekolah yang kita mau, atau rasa sakit lantaran geraham bungsu yang tumbuh.
Dan masih banyak cerita-cerita menarik lainnya. Recommended banget lah buku ini.  Sukses terus bang Dika!

No comments:

Post a Comment

Copyright © 2016. Designed by Ismi Islamia Fathurrahmi